Selasa, 16 Oktober 2012

Denisa

  Di Bumi yang begitu luas ini Tuhan menciptakan berjuta-juta manusia dengan berjuta-juta karakter,berjuta-juta nama,bangsa,kepercayaan dan tak terkecuali kelebihan  yang dianugerahkan kepada setiap manusia. Kelebihan yang tuhan berikan kepada setiap manusia memang berbeda-beda baik yang biasa maupun luar biasa.
   Denisa terus saja berusaha untuk tidak mempedulikan apa yang secara tidak ia kehendaki memaksanya untuk ia ketahui dan  berada di pikrinnya. Berada di tempat umum dan bertemu dengan banyak orang membuatnya harus sabar membaca semua pikiran orang-orang yang ada di sekitarnya atau lebih tepatnya terbaca.

 “Hai,Denisa!!” suara sumbang itu mulai terbiasa terdengar di telinga Denisa sejak 3 bulan yang lalu dan yah itu suara melisa teman yang setia menemaninya untuk pergi kesekolah yang selalu bertemuan di halte. Sebenarnya Denisa sulit untuk mulai berteman dengan orang lain dan itu adalah salah satu alasan mengapa sering sekali ia berpindah-pindah sekolah,walaupun orang tuanya sering kesal dengan permintaan Denisa yang sering ingin berpindah-pindah tempat,walau begitu orang tuanya paham bahwa anaknya tak tahan jika berada di sekitar orang-orang yang tak begitu ia sukai. Mengapa ia bisa memutuskan untuk tak menyukai orang-orang yang berada di sekitarnya ,tentu saja jawabannya karena ia dapat membaca pikiran-pikiran buruk seperti yang ada di benak teman-teman sekolahnya terdahulu ia melihat bahwa mereka rata-rata mempunyai sisi negatif. Memang sulit dipercaya jika karena hanya alasan itu ia selau ingin berpindah-pindah sekolah toh di dunia ini memang tak ada manusia yang sempurna bukan?,dan bagaimana bisa kita dapat menerima orang lain jika kita hanya selalu melihat dari sisi negatif. Tapi itulah dia Denisa si pembaca pikiran orang lain yang merupakan kelebihan luar biasa.    

“Hai mel” jawabnya singkat walau headset terpasang di telinganya dengan volume yang full tetapi  ia bisa tahu bahwa Melisa menyapanya,tatapannya tetap lurus ke depan tak sedikit pun menoleh ke arah Melisa duduk di bangku halte yang panjang dan sedikit lembab karena hujan semalam yang juga membuat udara sedikit dingin di pagi ini.

“Hei kau Denis selalu saja kau tak pernah menoleh saat ku sapa..aku tahu kau bisa mendengarkanku walau kau memasang musik rock kencang-kencang itu tak bagus jangan jadikan itu kebiasaan, kepribadianmu akan jelek di mata orang lain” ia terus saja mengocehi Denisa tentang kebiasaannya yang buruk itu.

“musik rock?” aku tak suka musik rock” ia tetap menjawab dengan headset yang masih terpasang dan volume yang juga masih kencang.

“yaaa apapun musik yang sedang kau dengar itu intinya ubahlah kebiasaan burukmu itu” jawab melisa.

“hahaha pentingkah aku merubah itu semua...untuk siapa jika aku berubah?” Denisa sedikit berpikir tentang apa yang dikatakan Melisa.

“kau ini bagaimana pertanyaanmu aneh sekali yaaa tentu saja untuk dirimu sendiri..mungkin dengan kau merubah kepribadianmu kau akan mudah mendapatkan lebih banyak teman tidak hanya aku saja yang selalu menemanimu..atau kalau perlu kau juga harus merubah penampilanmu...lihat saja rambutmu itu..apa kau menyisirnya pagi ini..kau hanya mengikat sekenanya saja,tali sepatumu tak terikat dengan sempurna..hah tapi untungnya kau  selalu memakai sedikit parfum,kalau tidak mungkin aku juga tidak mau menjadi temanmu” Melisa terus saja mengomentari penampilan Denisa mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

   Sambil menurunkan volume mp3nya dan melepaskan headsetnya Denisa memperhatikan apa-apa saja yang barusan temannya komentari mulai dari rambutnya yang diikat sekenanya lalu ia menarik sedikit rambutnya ke arah samping muka sehingga  terlihat,lalu melihat ke arah sepatunya atau lebih tepatnya kearah tali sepatunya sambil sedikit menggerak-gerakan kakinya seakan-akan tidak ada yang perlu dibenahi dari dirinya “menurutku penampilanku baik-baik saja tak ada yang perlu diubah dari diriku..apa yang kau lihat sekarang adalah aku, ya aku yang sesungguhnya, aku yang tak berpura-pura dalam penampilan, aku yang menjadi diriku sendiri aku yang suka membaca pikiran orang lain..aku yang selalu berusaha menjadi diriku sendiri ...be my self”. 

“yah itu terserahmu aku hanya memberi saran” seru Melisa.

“jika kau bilang kepadaku kalau dengan merubah penampilanku akan membuat aku mendapat banyak teman mungkin kau salah pada prinsipku tidak hanya orang yang mencariku untuk menjadikanku teman tapi akulah yang memutuskan cocok atau tidakkah mereka menjadi temanku setelah aku membaca pikiran mereka” jelas Denisa.

“jadi saat kau memilih aku menjadi temanmu apa yang telah kau baca dari pikiranku?” tanya Melisa penasaran. Melisa memang orang ke tiga yang tahu tentang kelebihan Denisa yang dapat membaca pikiran orang lain setelah kedua orang tuanya Denisa.

“itu rahasia..heheh...memangnya kau sendiri tidak ingat tentang apa yang dipikiranmu saat itu? Ya sudahlah jangan dipikirkan” jawab Denisa membuat penasaran temannya.

“hhmm baiklah”

   Mereka terus berbincang sambil menunggu bus yang akan mengantar mereka ke sekolah yang sedari tadi tak kunjung datang sampai  seorang wanita sekitar umur 30 datang dan duduk di sebelah mereka.

“hei mel” bisik Denisa pada Melisa

“ada apa kau berbisik-bisik begitu?” tanya Melisa heran.

“apa kau tahu apa yang sedang dipikiran wanita itu?”

“tentu saja tidak,yang bisa membaca pikiran orang lain itu kan kau”

“apa kau ingin tahu?”

“apa?” tanya Melisa penasaran.

“dia sedang mengomentari bandana yang kau pakai ia bilang kau sungguh norak,tak sepantasnya anak sekolah tampil berlebihan seperti kau”

“huh menyebalkan sekali..lebih baik aku tidak perlu tahu apa yang ada pikiran wanita itu..mengapa kau memberi tahu itu pada ku sih,aku kan jadi kesal” Melisa menggurutu setelah tau apa yang ada di pikiran wanita itu dan sedikit memicingkan matanya kepada wanita itu tanpa si wanita ketahui.

“yah kau tahu kan betapa menyebalkannya mebaca pikiran orang yang buruk,apalagi saat pikiran mereka tertuju pada kita,rasanya aku ingin selalu mencoba untuk tidak mempedulikan pikiran orang-orang yang ada di sekitarku,bila orang yang ku temui mempunyai pikiran yang buruk maka aku langsung memutuskan untuk tidak berteman dengannya itu penyebabnya mengapa akau susah mencari teman.”

“sungguh kasian sekali kau baru saja kau membaca sedikit,langsung mencap jelek”cela melisa sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

“ya aku tidak bisa mengubahnya ini sudah prsinsipku” seru Denisa

“dasar idealis!! Kau kan hanya membaca pikiran orang hanya sebagian saja jadi kau tidak bisa menentukan karakter orang yang sebenarnya” gerutu Melisa.

   Kemudian datang segerombolan anak TK menghampiri wanita di samping mereka tersebut dengan ceria “hallo,selamat pagi  bu guru ,bu guru pagi ini cantik sekali”. Seru dari salah satu anak.

“wah selamat pagi anak-anak” wanita ini membalas salam anak-anak tersebut dengan senyuman indah di wajahnya sambil mengelus rambut anak-anak tersebut,tatapan di matanya memancarkan kehangatan yang begitu dalam.
“hei lihat pendapatmu pasti akan berubah kan dengan pemandangan ini..wanita ini begitu hangat pada anak muridnya..tidak seharusnya kau berpikiran buruk padanya” ucap Melisa dengan suara masih berbisik.

   Dengan termenung Denisa memikirkan pemandangan ini ia menelaah baik-baik apa yang terjadi ia memperhatikan percakapann si wanita tersebut dengan anak muridnya. Ia memperhatikan dengan baik tatapan anak-anak TK kepada wanita itu dan sebaliknya “kau benar mel tak seharusnya aku  langsung mengecap buruk orang lain dengan pikirannya yang bisa aku baca ,aku harusnya menelaah terlebih dahulu,dan aku seharusnya sadar bahwa aku membaca pikiran hanya sebagian saja tak selurunya aku tahu kehidupan mereka”.


“dan harusnya kau merubah prinsipmu itu!!” sahut Melisa.

“ya aku akan merubahnya!!” seru Denisa dengan penuh semangat

   Tin..tin..suara klakson bus yang mereka tunggu sudah datang menandai berakhirnya perbincangan mereka di pagi ini di halte yang  teduh dan penuh pepohonan,perbincangan yang menyadarkan Denisa akan prisipnya yang salah.





-end-










Tidak ada komentar:

Posting Komentar