Di Bumi yang begitu luas ini Tuhan menciptakan
berjuta-juta manusia dengan berjuta-juta karakter,berjuta-juta nama,bangsa,kepercayaan
dan tak terkecuali kelebihan yang dianugerahkan
kepada setiap manusia. Kelebihan yang tuhan berikan kepada setiap manusia
memang berbeda-beda baik yang biasa maupun luar biasa.
Denisa terus saja
berusaha untuk tidak mempedulikan apa yang secara tidak ia kehendaki memaksanya
untuk ia ketahui dan berada di
pikrinnya. Berada di tempat umum dan bertemu dengan banyak orang membuatnya
harus sabar membaca semua pikiran orang-orang yang ada di sekitarnya atau lebih
tepatnya terbaca.
“Hai,Denisa!!” suara
sumbang itu mulai terbiasa terdengar di telinga Denisa sejak 3 bulan yang lalu dan
yah itu suara melisa teman yang setia menemaninya untuk pergi kesekolah yang
selalu bertemuan di halte. Sebenarnya Denisa sulit untuk mulai berteman dengan
orang lain dan itu adalah salah satu alasan mengapa sering sekali ia
berpindah-pindah sekolah,walaupun orang tuanya sering kesal dengan permintaan
Denisa yang sering ingin berpindah-pindah tempat,walau begitu orang tuanya
paham bahwa anaknya tak tahan jika berada di sekitar orang-orang yang tak
begitu ia sukai. Mengapa ia bisa memutuskan untuk tak menyukai orang-orang yang
berada di sekitarnya ,tentu saja jawabannya karena ia dapat membaca
pikiran-pikiran buruk seperti yang ada di benak teman-teman sekolahnya
terdahulu ia melihat bahwa mereka rata-rata mempunyai sisi negatif. Memang
sulit dipercaya jika karena hanya alasan itu ia selau ingin berpindah-pindah
sekolah toh di dunia ini memang tak ada manusia yang sempurna bukan?,dan
bagaimana bisa kita dapat menerima orang lain jika kita hanya selalu melihat
dari sisi negatif. Tapi itulah dia Denisa si pembaca pikiran orang lain yang
merupakan kelebihan luar biasa.
“Hai mel” jawabnya singkat walau headset terpasang di
telinganya dengan volume yang full tetapi
ia bisa tahu bahwa Melisa menyapanya,tatapannya tetap lurus ke depan tak
sedikit pun menoleh ke arah Melisa duduk di bangku halte yang panjang dan
sedikit lembab karena hujan semalam yang juga membuat udara sedikit dingin di
pagi ini.
“Hei kau Denis selalu saja kau tak pernah menoleh saat ku
sapa..aku tahu kau bisa mendengarkanku walau kau memasang musik rock
kencang-kencang itu tak bagus jangan jadikan itu kebiasaan, kepribadianmu akan
jelek di mata orang lain” ia terus saja mengocehi Denisa tentang kebiasaannya
yang buruk itu.
“musik rock?” aku tak suka musik rock” ia tetap menjawab
dengan headset yang masih terpasang dan volume yang juga masih kencang.
“yaaa apapun musik yang sedang kau dengar itu intinya ubahlah
kebiasaan burukmu itu” jawab melisa.
“hahaha pentingkah aku merubah itu semua...untuk siapa jika
aku berubah?” Denisa sedikit berpikir tentang apa yang dikatakan Melisa.
“kau ini bagaimana pertanyaanmu aneh sekali yaaa tentu saja
untuk dirimu sendiri..mungkin dengan kau merubah kepribadianmu kau akan mudah
mendapatkan lebih banyak teman tidak hanya aku saja yang selalu
menemanimu..atau kalau perlu kau juga harus merubah penampilanmu...lihat saja
rambutmu itu..apa kau menyisirnya pagi ini..kau hanya mengikat sekenanya
saja,tali sepatumu tak terikat dengan sempurna..hah tapi untungnya kau selalu memakai sedikit parfum,kalau tidak
mungkin aku juga tidak mau menjadi temanmu” Melisa terus saja mengomentari
penampilan Denisa mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sambil menurunkan
volume mp3nya dan melepaskan headsetnya Denisa memperhatikan apa-apa saja yang
barusan temannya komentari mulai dari rambutnya yang diikat sekenanya lalu ia
menarik sedikit rambutnya ke arah samping muka sehingga terlihat,lalu melihat ke arah sepatunya atau
lebih tepatnya kearah tali sepatunya sambil sedikit menggerak-gerakan kakinya
seakan-akan tidak ada yang perlu dibenahi dari dirinya “menurutku penampilanku
baik-baik saja tak ada yang perlu diubah dari diriku..apa yang kau lihat sekarang
adalah aku, ya aku yang sesungguhnya, aku yang tak berpura-pura dalam
penampilan, aku yang menjadi diriku sendiri aku yang suka membaca pikiran orang
lain..aku yang selalu berusaha menjadi diriku sendiri ...be my self”.
“yah itu terserahmu aku hanya memberi saran” seru Melisa.
“jika kau bilang kepadaku kalau dengan merubah penampilanku
akan membuat aku mendapat banyak teman mungkin kau salah pada prinsipku tidak
hanya orang yang mencariku untuk menjadikanku teman tapi akulah yang memutuskan
cocok atau tidakkah mereka menjadi temanku setelah aku membaca pikiran mereka”
jelas Denisa.
“jadi saat kau memilih aku menjadi temanmu apa yang telah kau
baca dari pikiranku?” tanya Melisa penasaran. Melisa memang orang ke tiga yang
tahu tentang kelebihan Denisa yang dapat membaca pikiran orang lain setelah
kedua orang tuanya Denisa.
“itu rahasia..heheh...memangnya kau sendiri tidak ingat
tentang apa yang dipikiranmu saat itu? Ya sudahlah jangan dipikirkan” jawab Denisa
membuat penasaran temannya.
“hhmm baiklah”
Mereka terus
berbincang sambil menunggu bus yang akan mengantar mereka ke sekolah yang
sedari tadi tak kunjung datang sampai
seorang wanita sekitar umur 30 datang dan duduk di sebelah mereka.
“hei mel” bisik Denisa pada Melisa
“ada apa kau berbisik-bisik begitu?” tanya Melisa heran.
“apa kau tahu apa yang sedang dipikiran wanita itu?”
“tentu saja tidak,yang bisa membaca pikiran orang lain itu
kan kau”
“apa kau ingin tahu?”
“apa?” tanya Melisa penasaran.
“dia sedang mengomentari bandana yang kau pakai ia bilang kau
sungguh norak,tak sepantasnya anak sekolah tampil berlebihan seperti kau”
“huh menyebalkan sekali..lebih baik aku tidak perlu tahu apa
yang ada pikiran wanita itu..mengapa kau memberi tahu itu pada ku sih,aku kan
jadi kesal” Melisa menggurutu setelah tau apa yang ada di pikiran wanita itu
dan sedikit memicingkan matanya kepada wanita itu tanpa si wanita ketahui.
“yah kau tahu kan betapa menyebalkannya mebaca pikiran orang
yang buruk,apalagi saat pikiran mereka tertuju pada kita,rasanya aku ingin
selalu mencoba untuk tidak mempedulikan pikiran orang-orang yang ada di
sekitarku,bila orang yang ku temui mempunyai pikiran yang buruk maka aku
langsung memutuskan untuk tidak berteman dengannya itu penyebabnya mengapa akau
susah mencari teman.”
“sungguh kasian sekali kau baru saja kau membaca
sedikit,langsung mencap jelek”cela melisa sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
“ya aku tidak bisa mengubahnya ini sudah prsinsipku” seru
Denisa
“dasar idealis!! Kau kan hanya membaca pikiran orang hanya
sebagian saja jadi kau tidak bisa menentukan karakter orang yang sebenarnya”
gerutu Melisa.
Kemudian datang
segerombolan anak TK menghampiri wanita di samping mereka tersebut dengan ceria
“hallo,selamat pagi bu guru ,bu guru
pagi ini cantik sekali”. Seru dari salah satu anak.
“wah selamat pagi anak-anak” wanita ini membalas salam
anak-anak tersebut dengan senyuman indah di wajahnya sambil mengelus rambut
anak-anak tersebut,tatapan di matanya memancarkan kehangatan yang begitu dalam.
“hei lihat pendapatmu pasti akan berubah kan dengan
pemandangan ini..wanita ini begitu hangat pada anak muridnya..tidak seharusnya
kau berpikiran buruk padanya” ucap Melisa dengan suara masih berbisik.
Dengan termenung
Denisa memikirkan pemandangan ini ia menelaah baik-baik apa yang terjadi ia
memperhatikan percakapann si wanita tersebut dengan anak muridnya. Ia
memperhatikan dengan baik tatapan anak-anak TK kepada wanita itu dan sebaliknya
“kau benar mel tak seharusnya aku langsung mengecap buruk orang lain dengan
pikirannya yang bisa aku baca ,aku harusnya menelaah terlebih dahulu,dan aku
seharusnya sadar bahwa aku membaca pikiran hanya sebagian saja tak selurunya
aku tahu kehidupan mereka”.
“dan harusnya kau merubah prinsipmu itu!!” sahut Melisa.
“ya aku akan merubahnya!!” seru Denisa dengan penuh semangat
Tin..tin..suara
klakson bus yang mereka tunggu sudah datang menandai berakhirnya perbincangan
mereka di pagi ini di halte yang teduh
dan penuh pepohonan,perbincangan yang menyadarkan Denisa akan prisipnya yang
salah.
-end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar