Matahari sudah ditelan oleh langit malam
ditemani oleh terangnya lampu jalanan,Elang masih saja memetik gitarnya duduk
dan bersandar di depan angkutan umum yang sedang menunggu lampu hijau menyala sambil
menyanyikan sebuah lagu yang umumnya dinyanyikan oleh anak jalanan.
“sungguh..ku..me..”belum sempat untuk mengakhiri lagunya seorang anak
laki-laki menghampiri dan memotong nyanyian Elang.
“aduh apaan sih lo Der! jangan narik-narik baju gue kaya gitu deh,lo
tau nggak gue itu belum sempet mintain duit ke penumpang gara-gara lo ini
arggh.”wajah kesalnya seakan ingin sekali manghakimi Deri yang telah membuat ia
kehilangan rezeki untuk makan adiknya di rumah.
“udah lo jangan kesel dulu lang,gue samperin lo Cuma mau kasih ini kok
nih lo harus lihat.”dari tangannya Deri memberikan koran yang mulai dijatuhi
titik air hujan.
“hah..apa maksudnya lo kasih koran ke gue?,lagi pula ini juga koran
kemarin.”seketika dahinya mengernyit keheranan dan sorotan matanya yang ingin
mencari tahu maksud dari koran yang di berikan kepadanya.
“lo harus buka halaman tiga,di kolom paling pojok.”seru Deri.
“Derita TKW di Arab.”matanya membaca dengan cermat judul berita yang berada
pada kolom paling pojok,ditulis dengan cetak tebal,mimik mukanya serius tapi
perlahan berubah seakan tak memperdulikan lantas ia pun pergi berjalan
mengabaikan Deri.
“loh lang lo nggak mau baca beritanya? bukannya lo paling semangat dan
selalu mancari-cari berita yang berhubungan dengan tenaga kerja di Arab.”Deri
menanyakan alasan Elang yang mengabaikan koran yang diberikannya,sambil
mengikuti langkah Elang yang menerobos rintik air hujan.
“Der lo tahu kan kalo gue udah ditinggal selama empat belas tahun sama
ibu gue,selama itu juga gue selalu cari-cari berita tentang TKW di Arab,gue
takut ibu gue di siksa sama majikannya di sana,gue berharap ibu gue bisa
balik,tapi sekarang kayanya udah nggak ada harapan.”mukanya memelas.
Elang memang sudah ditinggal
oleh ibunya empat belas tahun yang lalu untuk menjadi tenaga kerja wanita di
Arab. Kini ia tinggal bersama ayahnya yang tak karuan hidupnya beserta adik
perempuannya Mira.ketika Elang berumur lima tahun,ayahnya mengatakan bahwa
ibunya akan segera pulang tetapi hingga beranjak umur 16 tahun ibu yang
ditunggunya tak kunjung datang.Elangpun sampai sekarang tidak mengetahui
bagaimana wajah ibunya,setiap ia melihat seorang anak sedang bercengkrama
dengan ibunya yang penuh dengan kasih sayang ,rasa iri di hatinya tumbuh tak tertahankan
karena memang ia merindukan kasih sayang seorang ibu. Elang selalu menanyakan
kepada ayahnya apakah ia mempunyai foto ibunya tetapi yang terlontar hanya kata
‘tidak’.
Hujan yang semakin deras
membuat Elang memutuskan pulang. Petir dan kilat mengiringi Elang menembus
deraian hujan,menyusuri jalanan becek masuk ke dalam gang dengan himpitan
rumah-rumah kumuh.
Tok..tok..tok.”Mir..mira..tolong bukakan pintunya mir ini kakak sudah
pulang.”setengah menggedur Elang mengetuk pintu rumahnya yang hampir reyot
karena tubuhnya yang sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Dengan segera Mira membukakan pintu untuk kakaknya. “ya ampun kakak
basah dan bau badan banget gitu ihhh.’dengan sedikit bergurau Mira menyambut
kedatanagn kakaknya,sebenarnya dalam hati ia bergumam.”maaf kak aku selalu
nyusahin kakak dan nggak bisa berbuat apa-apa.”
“sudah tahu kakakmu ini kehujanan bukannya bawakan handuk.”dengan sigap
Mira membawakan handuk yang menggantung di hanger dekat kamar mandi.
“ini kak..”Mira melempar ringan handuk yang dibawanya dan jatuh di atas
kepala kakaknya yang sudah lepek.
“huh dasar kamu ini nggak sopan ya sama kakaknya sendiri.” Elang
mengomentari tindakan adiknya.
“maaf kak maaf nggak sengaja kok hehehehe.”
“haha,hehe! Bisa saja kamu ini mir.”tanggapnya dengan muka jutek.
Bagi Elang adik perempuannya,
Mira adalah satu-satunya orang yang ia sayangi dan alasan mengapa ia rela
mengamen siang malam dengan segala resikonya seperti,terserempet mobil-mobil,di
kejar oleh satpol PP ketika ada razia. Sedangkan ayah baginya bukanlah ayah
yang pantas untuk menjadi panutan.
“oh iya Mir ngomong-ngomong ayah kemana?” tanya Elang yang dari tadi
tak melihat batang hidung ayahnya.
“ya..mungkin seperti biasa kak, kalo nggak mabuk-mabukan yaa paling
judi di warung dekat pertigaan itu loh kak.”
“lagi...hmm.” rasa kecewa kepada ayahnya memang sudah tumbuh lama dalam
diri Elang.
“ya sudahlah kita memang nggak bisa berbuat apapun..kalo protespun yang
ada tamparannya mendarat di muka kita.” Mira pasrah atas kelakuan ayahnya
selama ini.
“iya Mir kakak juga sudah tidak memperdulikannya lagi.”
“kak Elang apa kakak membawa makanan buat malam ini?”
“maaf Mir buat malam ini kita harus menahan lapar,karena tadi kakak
nggak dapat duit ngamen.”
“nggak apa-apa kok kak,akukan adik kakak yang kuat kalau cuma untuk
nggak makan semalam saja itu sih masalah kecil,coba saja kalau ibu ada di sini
ya kak pasti kita dimasakin makanan yang enak-enak nggak cuma makanan
warteg.”mira berpura-pura untuk menjaga perasaan kakaknya padahal ia sudah
kelaparan dari tadi siang.
“sudahlah Mir kamu nggak usah berkhayal kalau ibu akan pulang ,wajahnya
saja kita tidak tahu bagaimana,bahkan kakak pikir ibu itu memang tidak ada,ahhh
kenapa kita jadi membicarakan ini?,sudah sana kamu tidur semoga mimpi
indah.”Elangpun menghentikan perbincangan dengan adiknya karena ia sudah tidak
mau membicarakan tentang seorang ibu yang tak pernah ia lihat sedikitpun.
Suara ketukan pintu yang terdengar
keras membangunkan Elang yang telah tertidur karena kelelahan iapun harus
meninggalkan dunia mimpinya yang indah yang tak mungkin ia temui di dunia
nyata,ia selalu bersyukur bahwa tuhan masih menciptakan dunia mimpi sebagai
penawar dari pahitnya dunia nyata dan ia berharap ada sebuah keajaiban yang
dapat memutar balikan dunia mimpi dengan dunia nyata.
“Hey lang buka dong pintunya!”
teriak ayah Elang dari luar ,yang masih memegang botol miras.
“pasti dia mabuk-mabukan lagi..” Elang menggerutu
“ buka pintu doang lama banget! Oh iya mana duit ngamen?!”dengan nada
tinggi ayahnya menagih uang hasil mengamen Elang.
“hari ini nggak ada..”
“Apa? Kamu bilang nggak ada? Dasar anak nggak guna ,nggak tau di
untung,coba kalau dulu ayah nggak pungut dan ngurusin kamu..mau jadi apa kamu
sekarang,seharusnya kamu itu berterimakasih sama ayah.”ayahnya berkata-kata
dengan keadaan tidak sadar dan di bawah pengaruh miras.
“pungut?apa maksud ayah?.” sejuta pertanyaan dan spekulasi timbul
dipikiran Elang setelah mendengar kata-kata ayahnya.
Gabrukkk.. tubuh gontai ayahnya
terjatuh ke lantai karena efek dari miras yang diminumnya belum hilang dan tak
sempat menjawab pertanyaan Elang.
Keesokan harinya Elang melakukan rutinitasnya seperti biasa
“permisi bu..” Elang bernyanyi setelah itu menjulurkan tangannya ke
kaca mobil yang ada di hadapannya dalam mobil itu hanya ada seorang ibu yang
mengendarai mobil itu ,tetapi tiba-tiba mobil itu berjalan karena lampu hijau
sudah menyala tanpa menyadari ada seorang pengamen yang sedang berdiri alhasil
Elang terserempet dan tersungkur. Setelah beberapa jarak ibu yang mengendarai mobil itupun sadar bahwa
mobilnya telah menyerempet seseorang dan menepikan mobilnya.
“ya ampun kamu nggak apa-apa nak ?.“
“nggak apa-apa kok saya udah biasa kaya gini memang sudah resiko kok bu
.”
“sebaiknya kamu saya antarkan ke klinik terdekat yah soalnya saya takut
kamu kenapa-kenapa,saya harus tanggung jawab karena saya yang sudah nyerempet
kamu, lagi pula lutut kamu juga berdarah.”
“ini sih cuma lecet aja bu, besok juga sembuh.”
“sudah kamu tidak usah komentar ,kamu masuk saja ke mobil saya nanti
saya juga antarkan kamu pulang.”
Dan merekapun menuju klinik
terdekat untuk mengobati luka Elang ,dalam perjalanan mereka berbincang-bincang
tentang kehidupan mereka, Elang biasanya tidak mudah akrab dengan orang yang
baru ia kenal tetapi kali ini ia merasakan hal yang berbeda,perasaan yang belum
pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan yang dari dulu ia dambakan,perasaan yang
tadinya ia pikir tidak akan pernah datang pada kehidupannya..yaitu perasaan
dimana kasih sayang seorang ibu kepadanya.
Setelah selesai mengobati luka
Elang di klinik,ibu tersebutpun mengantarkan Elang pulang ke rumahnya,dan
mereka bertemu dengan ayah Elang yang rupanya sudah tidak di bawah pengaruh
miras, ayahnya kaget ketika Elang pulang bersama dengan seseorang yang
sepertinya ia kenal dan sudah lama tidak berjumpa. Sama halnya dengan ayah
Elang ibu tersebutpun kaget ketika melihat ayah Elang adalah seseorang yang
pernah ada dimasa lalunya,tetapi mereka berdua berpura-pura tidak kenal di
hadapan Elang.
Ketika Elang membuatkan minum,diam-diam
ayah Elang dan wanita setengah baya itu berbincang-bincang dan menanyakan kabar
mereka masing-masing,karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu suasana masih
kikuk juga karena ada sesuata di antara mereka di masa lalu.
“dimana dia?”.wanita setengah baya itu menanyakan seseorang kepada ayah
Elang.
“dia.....sebenarnya tadi kamu
sudah melihatnya”.ayah Elang menjawab dengann hati-hati.
“jadi Elang anakku?.”setengah menarik napas wanita setengah baya yang
ternyata adalah ibu kandung Elang kaget bukan kepalang.
“iya dia adalah anakmu yang sudah kau tinggal belasan tahun.”ayah Elang
menegaskan.
Prakkkkk...gelas yang berisi
teh manis hangat itu terjatuh menjadi serpihan dan beberapa bagian beling yang
sangat tajam, tak di sangka pernyataan yang di katakan ayah Elang bersamaan
dengan datangnya Elang yang tadinya akan memberikan minuman.
Sejuta perasaan timbul di hati
Elang ia bingung bagaiman harus menanggapinya,ia senang akhirnya ia dapat
melihat wajah ibu kandungnya dan ia kesal selama ini ia di bohongi tentang
keberadaan ibunya serta di tinggal selama bertahun-tahun.
Bagaimana bisa seorang ibu
hidup dengan segala kemewahan dan kesenangan dalam hidupnya sedangkan ia lupa
mempunyai anak yang tidak jelas kehidupannya sungguh bagaikan langit dan bumi.
Pada awalnya Elang tidak bisa
memaafkan atas tindakan ibunya selama ini ia merasa ibunya telah
menyianyiakannya dan tak mempedulikannya sebagai anak.
Setelah di jelaskan bahwa pada
waktu itu Elang memang bukanlah anak yang di inginkan di keluarga besar ibunya
karena pernikahan ibunya tidak mendapat restu sebab ayah Elang bukanlah orang
yang berperangai baik dan tidak dapat di andalkan akhirnya mereka bercerai dan
Elang di pisahkan secara paksa dari ibunya ,sebenarnya sudah lama ibu Elang mencari
keberadaannya. sedangkan Mira bukanlah adik kandungnya ia hanyalah anak
perempuan yang selamat ketika kedua orang tuanya telah meninggal akibat
kecelakaan dan ibu Mira adalah adik dari ayah Elang. Elangpun menerima dan
memaafkan ibunya dengan segala pertimbangan yang sudah ia pikirkan
matang-matang.
-end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar