Minggu, 30 Oktober 2011

Sayap Elang


Matahari sudah ditelan oleh langit malam ditemani oleh terangnya lampu jalanan,Elang masih saja memetik gitarnya duduk dan bersandar di depan angkutan umum yang sedang menunggu lampu hijau menyala sambil menyanyikan sebuah lagu yang umumnya dinyanyikan oleh anak jalanan.
“sungguh..ku..me..”belum sempat untuk mengakhiri lagunya seorang anak laki-laki menghampiri dan memotong nyanyian Elang.
“aduh apaan sih lo Der! jangan narik-narik baju gue kaya gitu deh,lo tau nggak gue itu belum sempet mintain duit ke penumpang gara-gara lo ini arggh.”wajah kesalnya seakan ingin sekali manghakimi Deri yang telah membuat ia kehilangan rezeki untuk makan adiknya di rumah.
“udah lo jangan kesel dulu lang,gue samperin lo Cuma mau kasih ini kok nih lo harus lihat.”dari tangannya Deri memberikan koran yang mulai dijatuhi titik air hujan.
“hah..apa maksudnya lo kasih koran ke gue?,lagi pula ini juga koran kemarin.”seketika dahinya mengernyit keheranan dan sorotan matanya yang ingin mencari tahu maksud dari koran yang di berikan kepadanya.
“lo harus buka halaman tiga,di kolom paling pojok.”seru Deri.
“Derita TKW di Arab.”matanya membaca dengan cermat judul berita yang berada pada kolom paling pojok,ditulis dengan cetak tebal,mimik mukanya serius tapi perlahan berubah seakan tak memperdulikan lantas ia pun pergi berjalan mengabaikan Deri.
“loh lang lo nggak mau baca beritanya? bukannya lo paling semangat dan selalu mancari-cari berita yang berhubungan dengan tenaga kerja di Arab.”Deri menanyakan alasan Elang yang mengabaikan koran yang diberikannya,sambil mengikuti langkah Elang yang menerobos rintik air hujan.
“Der lo tahu kan kalo gue udah ditinggal selama empat belas tahun sama ibu gue,selama itu juga gue selalu cari-cari berita tentang TKW di Arab,gue takut ibu gue di siksa sama majikannya di sana,gue berharap ibu gue bisa balik,tapi sekarang kayanya udah nggak ada harapan.”mukanya memelas.


  Elang memang sudah ditinggal oleh ibunya empat belas tahun yang lalu untuk menjadi tenaga kerja wanita di Arab. Kini ia tinggal bersama ayahnya yang tak karuan hidupnya beserta adik perempuannya Mira.ketika Elang berumur lima tahun,ayahnya mengatakan bahwa ibunya akan segera pulang tetapi hingga beranjak umur 16 tahun ibu yang ditunggunya tak kunjung datang.Elangpun sampai sekarang tidak mengetahui bagaimana wajah ibunya,setiap ia melihat seorang anak sedang bercengkrama dengan ibunya yang penuh dengan kasih sayang ,rasa iri di hatinya tumbuh tak tertahankan karena memang ia merindukan kasih sayang seorang ibu. Elang selalu menanyakan kepada ayahnya apakah ia mempunyai foto ibunya tetapi yang terlontar hanya kata ‘tidak’.

  Hujan yang semakin deras membuat Elang memutuskan pulang. Petir dan kilat mengiringi Elang menembus deraian hujan,menyusuri jalanan becek masuk ke dalam gang dengan himpitan rumah-rumah kumuh.

Tok..tok..tok.”Mir..mira..tolong bukakan pintunya mir ini kakak sudah pulang.”setengah menggedur Elang mengetuk pintu rumahnya yang hampir reyot karena tubuhnya yang sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Dengan segera Mira membukakan pintu untuk kakaknya. “ya ampun kakak basah dan bau badan banget gitu ihhh.’dengan sedikit bergurau Mira menyambut kedatanagn kakaknya,sebenarnya dalam hati ia bergumam.”maaf kak aku selalu nyusahin kakak dan nggak bisa berbuat apa-apa.”
“sudah tahu kakakmu ini kehujanan bukannya bawakan handuk.”dengan sigap Mira membawakan handuk yang menggantung di hanger dekat kamar mandi.
“ini kak..”Mira melempar ringan handuk yang dibawanya dan jatuh di atas kepala kakaknya yang sudah lepek.
“huh dasar kamu ini nggak sopan ya sama kakaknya sendiri.” Elang mengomentari tindakan adiknya.
“maaf kak maaf nggak sengaja kok hehehehe.”
“haha,hehe! Bisa saja kamu ini mir.”tanggapnya dengan muka jutek.

  Bagi Elang adik perempuannya, Mira adalah satu-satunya orang yang ia sayangi dan alasan mengapa ia rela mengamen siang malam dengan segala resikonya seperti,terserempet mobil-mobil,di kejar oleh satpol PP ketika ada razia. Sedangkan ayah baginya bukanlah ayah yang pantas untuk menjadi panutan.

“oh iya Mir ngomong-ngomong ayah kemana?” tanya Elang yang dari tadi tak melihat batang hidung ayahnya.
“ya..mungkin seperti biasa kak, kalo nggak mabuk-mabukan yaa paling judi di warung dekat pertigaan itu loh kak.”
“lagi...hmm.” rasa kecewa kepada ayahnya memang sudah tumbuh lama dalam diri Elang.
“ya sudahlah kita memang nggak bisa berbuat apapun..kalo protespun yang ada tamparannya mendarat di muka kita.” Mira pasrah atas kelakuan ayahnya selama ini.
“iya Mir kakak juga sudah tidak memperdulikannya lagi.”
“kak Elang apa kakak membawa makanan buat malam ini?”
“maaf Mir buat malam ini kita harus menahan lapar,karena tadi kakak nggak dapat duit ngamen.”
“nggak apa-apa kok kak,akukan adik kakak yang kuat kalau cuma untuk nggak makan semalam saja itu sih masalah kecil,coba saja kalau ibu ada di sini ya kak pasti kita dimasakin makanan yang enak-enak nggak cuma makanan warteg.”mira berpura-pura untuk menjaga perasaan kakaknya padahal ia sudah kelaparan dari tadi siang.
“sudahlah Mir kamu nggak usah berkhayal kalau ibu akan pulang ,wajahnya saja kita tidak tahu bagaimana,bahkan kakak pikir ibu itu memang tidak ada,ahhh kenapa kita jadi membicarakan ini?,sudah sana kamu tidur semoga mimpi indah.”Elangpun menghentikan perbincangan dengan adiknya karena ia sudah tidak mau membicarakan tentang seorang ibu yang tak pernah ia lihat sedikitpun.

  Suara ketukan pintu yang terdengar keras membangunkan Elang yang telah tertidur karena kelelahan iapun harus meninggalkan dunia mimpinya yang indah yang tak mungkin ia temui di dunia nyata,ia selalu bersyukur bahwa tuhan masih menciptakan dunia mimpi sebagai penawar dari pahitnya dunia nyata dan ia berharap ada sebuah keajaiban yang dapat memutar balikan dunia mimpi dengan dunia nyata.

 “Hey lang buka dong pintunya!” teriak ayah Elang dari luar ,yang masih memegang botol miras.
“pasti dia mabuk-mabukan lagi..” Elang menggerutu
“ buka pintu doang lama banget! Oh iya mana duit ngamen?!”dengan nada tinggi ayahnya menagih uang hasil mengamen Elang.
“hari ini nggak ada..”
“Apa? Kamu bilang nggak ada? Dasar anak nggak guna ,nggak tau di untung,coba kalau dulu ayah nggak pungut dan ngurusin kamu..mau jadi apa kamu sekarang,seharusnya kamu itu berterimakasih sama ayah.”ayahnya berkata-kata dengan keadaan tidak sadar dan di bawah pengaruh miras.
“pungut?apa maksud ayah?.” sejuta pertanyaan dan spekulasi timbul dipikiran Elang setelah mendengar kata-kata ayahnya.

  Gabrukkk.. tubuh gontai ayahnya terjatuh ke lantai karena efek dari miras yang diminumnya belum hilang dan tak sempat menjawab pertanyaan Elang.

Keesokan harinya Elang melakukan rutinitasnya seperti biasa

“permisi bu..” Elang bernyanyi setelah itu menjulurkan tangannya ke kaca mobil yang ada di hadapannya dalam mobil itu hanya ada seorang ibu yang mengendarai mobil itu ,tetapi tiba-tiba mobil itu berjalan karena lampu hijau sudah menyala tanpa menyadari ada seorang pengamen yang sedang berdiri alhasil Elang terserempet dan tersungkur. Setelah beberapa jarak  ibu yang mengendarai mobil itupun sadar bahwa mobilnya telah menyerempet seseorang dan menepikan mobilnya.

“ya ampun kamu nggak apa-apa nak ?.“
“nggak apa-apa kok saya udah biasa kaya gini memang sudah resiko kok bu .”
“sebaiknya kamu saya antarkan ke klinik terdekat yah soalnya saya takut kamu kenapa-kenapa,saya harus tanggung jawab karena saya yang sudah nyerempet kamu, lagi pula lutut kamu juga berdarah.”
“ini sih cuma lecet aja bu, besok juga sembuh.”
“sudah kamu tidak usah komentar ,kamu masuk saja ke mobil saya nanti saya juga antarkan kamu pulang.”

   Dan merekapun menuju klinik terdekat untuk mengobati luka Elang ,dalam perjalanan mereka berbincang-bincang tentang kehidupan mereka, Elang biasanya tidak mudah akrab dengan orang yang baru ia kenal tetapi kali ini ia merasakan hal yang berbeda,perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan yang dari dulu ia dambakan,perasaan yang tadinya ia pikir tidak akan pernah datang pada kehidupannya..yaitu perasaan dimana kasih sayang seorang ibu kepadanya.

  Setelah selesai mengobati luka Elang di klinik,ibu tersebutpun mengantarkan Elang pulang ke rumahnya,dan mereka bertemu dengan ayah Elang yang rupanya sudah tidak di bawah pengaruh miras, ayahnya kaget ketika Elang pulang bersama dengan seseorang yang sepertinya ia kenal dan sudah lama tidak berjumpa. Sama halnya dengan ayah Elang ibu tersebutpun kaget ketika melihat ayah Elang adalah seseorang yang pernah ada dimasa lalunya,tetapi mereka berdua berpura-pura tidak kenal di hadapan Elang.

  Ketika Elang membuatkan minum,diam-diam ayah Elang dan wanita setengah baya itu berbincang-bincang dan menanyakan kabar mereka masing-masing,karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu suasana masih kikuk juga karena ada sesuata di antara mereka di masa lalu.

“dimana dia?”.wanita setengah baya itu menanyakan seseorang kepada ayah Elang.
“dia.....sebenarnya  tadi kamu sudah melihatnya”.ayah Elang menjawab dengann hati-hati.
“jadi Elang anakku?.”setengah menarik napas wanita setengah baya yang ternyata adalah ibu kandung Elang kaget bukan kepalang.
“iya dia adalah anakmu yang sudah kau tinggal belasan tahun.”ayah Elang menegaskan.

  Prakkkkk...gelas yang berisi teh manis hangat itu terjatuh menjadi serpihan dan beberapa bagian beling yang sangat tajam, tak di sangka pernyataan yang di katakan ayah Elang bersamaan dengan datangnya Elang yang tadinya akan memberikan minuman.

  Sejuta perasaan timbul di hati Elang ia bingung bagaiman harus menanggapinya,ia senang akhirnya ia dapat melihat wajah ibu kandungnya dan ia kesal selama ini ia di bohongi tentang keberadaan ibunya serta di tinggal selama bertahun-tahun.
 
  Bagaimana bisa seorang ibu hidup dengan segala kemewahan dan kesenangan dalam hidupnya sedangkan ia lupa mempunyai anak yang tidak jelas kehidupannya sungguh bagaikan langit dan bumi.

  Pada awalnya Elang tidak bisa memaafkan atas tindakan ibunya selama ini ia merasa ibunya telah menyianyiakannya dan tak mempedulikannya sebagai anak.

  Setelah di jelaskan bahwa pada waktu itu Elang memang bukanlah anak yang di inginkan di keluarga besar ibunya karena pernikahan ibunya tidak mendapat restu sebab ayah Elang bukanlah orang yang berperangai baik dan tidak dapat di andalkan akhirnya mereka bercerai dan Elang di pisahkan secara paksa dari ibunya ,sebenarnya sudah lama ibu Elang mencari keberadaannya. sedangkan Mira bukanlah adik kandungnya ia hanyalah anak perempuan yang selamat ketika kedua orang tuanya telah meninggal akibat kecelakaan dan ibu Mira adalah adik dari ayah Elang. Elangpun menerima dan memaafkan ibunya dengan segala pertimbangan yang sudah ia pikirkan matang-matang.








-end-



  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar